Jumat, 17 April 2009

Tugas Perbaikan Mata kuliah Ekologi Hewan

Oleh:
Oktantia Rukmana (J1C106202)
FMIPA Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Dosen : Drs. Krisdianto. M.Sc
  1. Jika hewan betina menjadi penentu territory, sebutkan dan jelaskan mekanisme yang dilakukan untuk mempertahankan territoty tersebut !
Jawab:
Hewan betina sebagai hewan penentu territory berarti hewan tersebut harus dapat melindung daerah tersebut. Walaupun hewan ini merupakan hewan betina, dia tetap harus mampu mempertahankan territory ini meskipun harus melalui berbagai kompetisi demi melindungi dirinya sendiri dan anak-anaknya. untuk itu hewan betina ini harus melakukan segala hal yang dilakukkan oleh hewan jantan, kerena dia harus mempertahankan agar daerah teritorinya tidak direbut oleh hewan lain yang dapat menggangu ketentraman dia dan anak-anaknya. Misalnya saja seekor ayam betina yang baru menetaskan telurnya, hewan ini akan menyerang organisme yang akan menggangu ketenangan dia dan anak-anaknya.

  1. Jika hewan jantan menjadi penentu territory, maka dia akan mempertahankan berdasarkan kualitas territorinya. Semakin baik kualitas territory semakin besar energi/harga yang harus dikeluarkan/dibayarkan. Jelaskan maksud pernyataan di atas !
Jawab:
Maksud kalimat tersebut adalah ketika hewan jantan tersebut akan mempertahankan daerah teritorynya maka dia harus berkompetisi dengan hewan lain demi mempertahankan daerahnya. Walaupun hewan jantan ini biasanya menjadi sebagai pemimpin suatu territory jadi dia sudah terbiasa dengan berbagai kompetisi yang terjadi sehingga baginya kompetisi adalah hal yang biasa, tapi ada juga hewan jantan yang tidak dapat memimpin, sehingga dia tidak dapat mempertahankannya dan tempatnya akan direbut oleh pejantan lain. Maka dari itu hewan jantan ini akan mengeluarkan semua kemampuannya untuk melawan pejantan lain agar dapat mempertahankan daerah teritorynya sehingga semakin baik kualitas territory semakin besar energi/harga yang harus dikeluarkan/dibayarkan. Misalnya saja seekor singa yang menjaga daerah teritorinya dengan bertarung sampai mati dengan spesies lain demi mempertahankannya.

  1. Dalam menggunakan kemampuan mengubah warna (biocoloration) apa perbedaan antara karakter interspesifik dan intraspesifik dan bagaimana proses ini dapat berlangsung !
Jawab:
Warna (biocoloration) pada hewan digunakan untuk menghindari predation baik secara visual ataupun komunikasi. Adapun beberapa biocoloration tersebut antara lain :
  1. Cryptic coloration (similar to background) atau Cryptic pewarnaan (mirip dengan latar belakang)
  2. Disruptive coloration (gangguan pewarnaan)
  3. Flash pewarnaan (Flash coloration), contohnya: Kunang-Kunang untuk menarik lawan jenisnya.
  4. Counter-pewarnaan (Counter-coloration)
  5. Struktural peniruan (Structural mimicry) yaitu mencoba mengubah struktur tubuhnya.
  6. Warning (aposematic) coloration {Batesian & Mullerian Mimics) atau Peringatan (aposematic) (pewarnaan Batesian & Mullerian meniru)
Perbedaan antara karakter interspesifik dan intraspesifik yakni:
Karakter interspesifik adalah karakter yang terjadi antara beberapa spesies. Karakter ini dikeluarkan pada saat keadaan yang terdesak, yakni pada saat hewan tersebut diserang oleh musuh. Pada saat ini hewan tersebut mengeluarkan karakter interspesifik berupa perubahan warna yang mencolok sehingga musuh tidak mengenali hewan tersebut dan hewan tersebut dapat menyelamatkan diri dari bahaya itu. Contohnya seekor gurita yang diserang musuh, hewan ini akan mengubah warna tubuhnya menjadi merah dan mengakibatkan musuhnya menjadi tidak menyerangnya. Begitu pula dengan bunglon, hewan ini akan mengubah warna kulitnya sesuai dengan keaadaan lingkungan yang hewan ini tempati sehingga para musuh tidak mengenalinya dan terbebas dari bahaya.
Sedangkan untuk karakter intraspesifik terjadi antar 1spesies. Karakter ini dilakukan pada saat hewan akan mengalami masa puber, yakni pada saat musim kawin. Hewan ini akan mengubah warnanya menjdi sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian pasangannya. Misalnya saja burung merak jantan yang memperindah warna bulunya untuk menarik perhatian sang betina untuk melakukan perkawinan.

  1. Apa perbedaan antara Mulerian dan Batesian coloration, berikan contoh siapa yang menggunakan dan untuk tujuan apa kedua fenomena ini terjadi. Apa manfaat kedua proses tersebut bagi hewan!
Jawab :
Batesian dan mullerian adalah contoh dari mimikri. Mimikri merupakan perilaku melindungi diri, dan salah satu bentuk perilaku atau rupa yang pertama kali tumbuh pada sejumlah hewan, khususnya serangga, di mana spesies tersebut menyerupai spesies lain dalam hal perilaku maupun rupa. Biasanya mimikri menyerupai suatu spesies sebagai salah satu cara menghindari bahaya, misalnya bila berhadapan dengan predator. Salah satu contohnya adalah lalat bunga, yang banyak dari spesiesnya menyerupai tawon. Istilah ini jangan dikelirukan dengan kamuflase, di mana seseorang bertindak terhadap bahaya dari spesies hewan lain yang mencari mangsa di lingkungan sekitarnya. Mimikri juga ada pada ikan yang hidup di sungai.
  • Mimikri Mullerian : merupakan mimikri yang dilakukan oleh serangga, tapi baik serangga yang menyerupai (mimik) ataupun yang ditiru (model) sama-sama tidak layak dimakan (unpalatable), seperti lebah berwarna hitam dan kuning (pada ular juga). Seperti halnya pada kodok Amerika dan Mandagaskar yang memiliki warna mencolok dan terang sehingga dapat menarik perhatian hewan lain dan menghilangkan keadaan yang sebenarnya dimana hewan ini beracun.
Gambar 1. Kupu-kupu yang memiliki mullerian mimikri.

Gambar 2. Kodok yang memiliki warna indah akan tertapi memiliki racun
  • Mimikri Batesian : merupakan mimikri organisme yang menyerupai organsime yang berbahaya, dan serangga yang menyerupai layak dimakan. Contohnya lalat menyerupai lebah penyengat
Gambar 3. Beberapa spesies termasuk beberapa hoverflies, mimic pedas pada tawon


Gambar 4. Macroxiphus sp tonggeret meniru seekor semut

Selasa, 24 Maret 2009

Lahan basah di Desa Tungkaran, Martapura Kab. Banjar, Kalimantan Selatan

Oleh:
Oktantia Rukmana (J1C106202)
FMIPA Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarbaru, Kalimantan Selatan

   Lahan basah merupakan habitat utama di Kalimantan yang luasnya meliputi lebih dari 10 juta ha, kira –kira 20 % massa daratan Kalimantan . Habitat lahan basah di Kalimantan terutama berupa air tawar dan rawa gambut serta lahan bakau di pesisir sungai. Khususnya pada daerah Kalimantan selatan yang memiliki areal seluas 3,7 juta ha dengan karakteristik lingkungan yang spesifik, dimana terdiri atas tipe lahan basah dan lahan kering. Kedua tipe lahan itu seolah-olah menempati ruang dan wilayah tersendiri. Lahan kering dengan bentangan Pegunungan Meratus dari bagian utara ke selatan dan medan yang berombak di wilayah timur serta lahan basah di wilayah barat. Kedua tipe utama lahan itu memberikan keunikan ekologis baik dari segi fisik-kimia dan biologis maupun sosial dan kependudukannya.
    Bagi sebagian kalangan, barangkali “lahan basah” merupakan istilah yang masih relatif baru. Walaupun sebenarnya mereka sudah mengenal ekosistem ini dengan sangat karibnya. Lahan basah merupakan terjemahan langsung dari kata “wetlands”. Pengertian lahan basah itu sendiri menurut beberapa ahli diantaranya berdasarkan konversi Ramsar, mendefinisikan lahan basah sebagai daerah-daerah seperti rawa, payau, lahan gambut atau perairan, baik alami maupun buatan, permanen atau sementara, dengan air yang mengalir atau tetap, baik air tawar, payau atau asin, meliputi pula daerah perairan laut dengan kedalaman pada saat air surut terendah tidak melebihi 6 meter.
     Adapun yang termasuk lahan basah yang terdapat di Kalimantan Selatan adalah kawasan rawa. Dimana rawa merupakan salah satu tipe lahan basah yang memiliki fungsi dan keunikan yang khas. Secara fisik, rawa merupakan suatu daerah yang tergenang oleh air baik secara permanen atau secara musiman dan ditumbuhi oleh suatu vegetasi, dimana banyak dijumpai di pesisir pantai yang dipengaruhi pasang surut atau di daerah pedalaman yang jauh dari pantai dan air yang menggenanginya dapat bersifat asin, payau, atau tawar dan biasanya mempunyai kedalaman tidak lebih dari 2 meter. Sedangkan, Gopal et al, (1982) mengartikan rawa atas dua kepentingan yang bertolak belakang, dimana pengertian pertama yang dikemukakan oleh “ecologist” ditekankan kepada kepentingan ekosistem, sehingga memiliki konotasi positif. Sedangkan pengertian kedua ditekankan kepada kepentingan manusia, yaitu bahwa rawa merupakan lahan yang tebengkalai yang hanya bermanfaat dengan upaya drainase. Dari pengertian kedua ini, istilah rawa dapat berubah dari wetlands menjadi wastelands untuk menunjukkan betapa rawa merupakan lahan yang paling murah dan dengan sedikit masalah.
     Fungsi foundamental dari lahan basah ini sendiri antara lain sebagai sumber produk-produk alami didalam lahan antara lain tanah gambut, kayu-kayuan (seperti nipah, nibung, rahim, rengas), buah-buahan(salk liar, durian, manggis hutan), dan lain-lain, memenuhi kebutuhan akan air, pengendali banjir, pencegah pencampuran (intrusi) air asin, perlindungan terhadap alam, penghilangn dan penambatan sedimen, penghilangn dan/atau penambatan nutrisi, penghilangn dan/atau penambat racun, sebagai produksi energi
      Dari sekian banyak lahan basah yang ada di Kalimantan Selatan, salah satunya berada di desa Tungkaran daerah kota Martapura, Kab.Banjar. Desa tungkaran adalah desa terpencil yang berada di kota Martapura kab. Banjar, Kalimantan Selatan. Untuk menuju kedesa ini memakan waktu sekitar 15 menit dari kota Martapura. Desa ini secara geografis terletak pada titik koordinat 3o 37’ 22.8” S 114o 42’ 09.2” E. Walaupun desa ini merupakakan desa yang terpencil, akan tetepi desa ini banyak penghuninya dan fasilitas yang tersedia pun sudah lumayan mencukupi seperti Sekolah Dasar dan mesjid.

Gambar 1.1 Fasilitas Desa Tungkaran

     Jika terjadi hujan deras air sungai di desa tungkaran akan meluap dan menyebabkan terjadinya banjir, hal ini dikarenakan pada awalnya desa ini adalah sebuah lahan basah yang telah dijadikan tempat hunian. Jadi tempat ini merupakan lahan hunian buatan yang pada awalnya merupakan lahan basah yang tidak terjamah oleh manusia. oleh karena itu jalan penghubung antara kota Martapura dan desa ini banyak mengalami kerusakan dan selalu basah. Selain itu jembatan penghubung jalan juga tidak ada pengamannya. Lahan basah di tempat ini ditumbuhi oleh flora ber jenis kangkung, eceng gondok, purun tikus, rumbia, galam, dan teratai. Lahan ini di huni oleh beberapa fauna antara lain ular, ikan sepat, kodok dan katak. Lahan ini tempatnya sangat luas dan terhubung dengan sungai-sungai kecil yang berada di kota Martapura.

Gambar 1.2 Habitat Lahan Basah

     Dari survei yang dilakukan pada tanggal 9 maret, lahan ini baru saja diguyur hujan. Air sungainya hampir mencapai jalanan, jalan yang kami lewati pun cukup terganggu,karena jalannya becek dan licin. Tanaman yang tumbuh disana juga sangat subur sedangkan untuk hewan yang ada disana tidak muncul kepermukaan selain ikan sepat. Menurut penglihatan saya, lahan disana sudah tercemar oleh limbah rumah tangga, sehingga habitat flora dan faunanya terganggu. Warna airnya pun sudah menjadi kehitam-hitaman.

Gambar 1.3 Jembatan dan Jalan Rusak

Gambar 1.4 Pencemaran

Gambar 1.5 Air

Gambar 1.6 Kerusakan Habitat

      Tanaman dilahan ini sudah banyak dieksploitasi manusia baik secara legal dan ilegal karena lahan ini merupakan tempat keseharian warga disana, seperti halnya eceng gondok, tanaman ini sangat bernilai ekonomis yang dapat dijadikan kerajinan tangan, akan tetapi ada juga yang mengambil tanaman ini tapi tidak digunakan yakni hanya mencabutnya dari habitatnya dan dibiarkan begitu saja. Lain halnya dengan tanaman kangkung, tanaman ini diambil masyarakat sekitar untuk dijual kepasar dijadikan bahan sayuran. Sedangkan untuk pohon rumbia, tanaman ini multiguna yakni batangnya digunakan sebagai pakan ternak dan daunnya dijadikan sebagai atap rumah.

Gambar 1.7 Eksploitas Tanaman Eceng Gondok